BERIKAN TELADAN BERLALU LINTAS BAGI ANAK

Post :   |   24 Juli 2017   |   16:46 WIB   |   Dilihat 846 kali

Pada Sektor Perhubungan, Peringatan Hari Anak Nasional (HAN) dimaknai sebagai kepedulian seluruh bangsa Indonesia terhadap perlindungan anak Indonesia agar tumbuh dan berkembang secara optimal, dengan mendorong keluarga Indonesia menjadi motor penggerak utama dalam memberikan perlindungan terhadap anak.

Menurut UNICEF (2016) terdapat 700 juta perempuan di dunia menikah ketika masih anak- anak. Masalah kedua adalah ancaman rokok yang menurut Depkes (2016) terjadinya peningkatan perokok pemula usia 10-14 tahun sebesar 100% dalam kurun waktu kurang dari 20 tahun, yaitu dari 8,9% di tahun 1995 menjadi 18% di tahun 2013) persoalan gizi anak-anak Indonesia, dimana sekitar 37% anak Indonesia menderita stunting dan terakhir maraknya kekerasan yang dialami oleh anak- anak kita khususnya kekerasan seksual.

Dalam berlalu lintas keluarga dapat memberikan kontribusi dalam menekan tingginya angka kecelakaan lalu lintas yang menjadikan anak menjadi korban, bahkan pelaku kecelakaan lalu lintas, sehingga menumbuhkan generasi penerus bangsa yang sehat, cerdas, memiliki empati dan kepedulian terhadap sesama. 

Dari sudut pandang Transportasi khususnya Lalu lintas Jalan, ada yang menghawatirkan apabila melihat data - data berikut :

  • Menurut World Health Organization (WHO) tahun 2011, Indonesia setiap tahunnya harus kehilangan hingga 400 ribu nyawa anak di bawah usia 25 tahun Karena kecelakaan lalu lintas. Angka ini setara dengan seribu kematian remaja setiap hari nya;
  • Pada 2014, jumlah kecelakaan lalu-lintas mencapai 95.906, dengan jumlah korban meninggal dunia 28.897 jiwa dan luka-luka 136.581 orang (Polri);
  • Dalam rentang lima tahun terakhir, (2012-2016), anak-anak di bawah umur yang menjadi pelaku kecelakaan mencapai sekitar 21 ribuan orang. Angka itu setara dengan sekitar 4,25% dari total pelaku kecelakaan yang tercatat di Indonesia;
  • Dalam lima tahun terakhir tercatat sekitar 139 ribu anak menjadi korban kecelakaan. Jumlah itu setara dengan sekitar 16% dari total korban kecelakaan di Tanah Air. (Korlantas Mabes Polri);
  • Kepolisian Daerah Jawa Barat pada tahun 2015 mencatat, sebanyak 8.092 Jumlah Kecelakaan terjadi di wilayah hukum Polda Jabar. Berdasarkan jenis kendaraan, Sepeda Motor mencatatkan angka tertinggi yaitu 9.635 unit kendaraan terlibat laka lantas, disbanding jenis kendaraan lainnya.

 

Dari data di atas menggambarkan bahwa Indonesia pada umumnya sedang dihantui oleh fenomena akan rusak dan hilangnya generasi penerus bangsa yang diakibatkan oleh kecelakaan lalu lintas. Lebih Khusus lagi berdasarkan data Kecelakaan di WIlayah Hukum Poolda Jawa Barat,  angka kecelakaan lalu lintas berdasarkan profesi, korban laka dari kalangan pelajar mencatatkan angka yang cukup tinggi. Hal ini tentu perlu mendapatkan perhatian serius dari berbagai pihak, agar Indonesia mampu keluar dari fenomena yang terjadi saat ini.

Pentingnya Teladan

Menurut Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak,Yohana Yembise, perlu adanya kesadaran yang dapat mendorong keluarga Indonesia agar memiliki pengasuhan yang berkualitas, berwawasan, keterampilan dan pemahaman yang komprehensif dalam pemenuhan hak dan perlindungan anak. Keluarga merupakan awal mula pembentukan kematangan individu dan struktur kepribadian seorang anak. Anak-anak akan mengikuti dan mencontoh   orang tua dengan   berbagai kebiasaan dan perilaku karena anak adalah kelompok makhluk yang rentan karena berusia kurang dari 18 tahun. “Baik buruknya keluarga akan menjadi cerminan bagi masa depan anak. Baik buruknya karakter/perilaku  anak di masa datang sangat ditentukan oleh pola pengasuhan yang diberikan oleh keluarganya dan lingkungan terdekatnya”.

Saat ini anak tidak hanya menjadi korban, namun tak jarang mereka juga sudah menjadi pelaku penyebab terjadinya kecelakaan, baik yang menjadikan anak sebagai korban maupun sebagai pelaku, perlu dikaji secara mendalam dan dicarikan solusi terbaiknya. Keluarga mempunyai peran untuk melindungi anak dengan memberikan Teladan. Seperti hal nya dalam berlalu lintas, pemakaian helm keselamatan diatur dalam Undang Undang (UU) No 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ). Para pesepeda motor dan penumpangnya wajib memakai helm sesuai Standard Nasional Indonesia (SNI). Ada sanksi bagi pelanggar aturan itu, yakni dendak maksimal Rp 250 ribu atau penjara maksimal satu bulan.

Sering terjadi kontradiksi dalam benak dan pikiran anak saat ini akan apa yang terjadi ketika ketika orang tua menjarkan anak untuk menggunakan helm keselamatan saat bersepeda motor, namun orang tua naik sepeda motor tidak menggunakan helm keselamatan. Atau, mengajak sang anak bersepeda motor, namun sang anak tidak dipakaikan helm keselamatan. Padahal, ketika orang tua mengajarkan anak untuk memakai helm saat bersepeda motor, dia sedang mengajarkan anak untuk taat pada aturan.

Contoh lainnya akan pentingnya teladan soal disiplin dalam berlalu lintas, yaitu tertib saat antre di tengah kemacetan lalu lintas jalan. Ada orang tua yang mengemudi mobil tidak menunjukkan kedisiplinan, ketika kemacetan semakin parah, sang orang tua malah memaksakan kendaraannya naik ke bahu jalan. Ironisnya jika di dalam mobil ada sang anak yang dengan kasat mata melihat pembelajaran bahwa melibas bahu jalan adalah sah-sah saja di tengah kemacetan. Lagi-lagi, benak sang anak akan bergejolak. Saat di rumah diajarkan disiplin, tapi di jalan diberikan contoh perilaku yang tidak benar.

Tentu, sebuah keteladanan bukan semata harus dilakukan orang tua. Para guru, penegak hukum maupun para birokrat serta para pemimpin mutlak memberi teladan bagaimana berlalu lintas jalan yang humanis. Lalu lintas jalan yang mengedepankan rasa empati.

Memberikan teladan untuk mendidik anak-anak dalam berlalu lintas dapat berkontribusi untuk menyelamatkan generasi penerus. Kita sudah banyak kehilangan anak bangsa akibat kecelakaan di jalan raya. Dalam rentang lima tahun terakhir, 2012-2016, sekitar 137 ribu jiwa melayang sia-sia di jalan raya, belum lagi mereka yang menderita luka berat dan ringan, jumlahnya berlipat-lipat, yakni sekitar 720 ribuan orang.

Seperti disampaikan Oleh Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, bahwa keluargalah yang mempunyai peran untuk melindungi anak dengan memberikan pola asuh yang sesuai dengan prinsip yang digunakan dalam pembangunan Anak Indonesia, yang mengacu pada KHA yaitu: Non Diskriminasi; Kepentingan Terbaik bagi Anak; Hak Hidup, Kelangsungan Hidup, dan  Perkembangan; dan Menghargai Pandangan Anak”.

 Melalui HAN yang diperingati setiap tahun, khususnya dalam bidang transportasi diharapkan semua pihak, terutama para keluarga, dapat mendukung dan berperan aktif dalam memberikan perlindungan khusus terhadap anak-anak Indonesia, agar mereka tumbuh menjadi generasi penerus bangsa yang sehat, cerdas, memiliki empati dan kepedulian terhadap sesama.

(ITG-07/2017)

Dirangkum dari berbagai sumber