Pengemudi Harus Waspada Menghadapi Bundaran

Post :   |   12 Desember 2017   |   13:50 WIB   |   Dilihat 27 kali

Setiap pengguna jalan langkahnya tidak bisa terbebas dari ancaman kecelakaan lalu lintas. Daerah rawan kecelakaan lalu lintas, bagi pengguna jalan tidak hanya pada ruas jalan di luar kota yang ditandai pemasangan rambu, melainkan juga sebenarnya di dalam kota. Namun, pada ruas jalan luar kota kendaraan bermotor melaju dengan kecepatan tinggi sehingga kecelakaannya sering memakan korban jiwa. Akibatnya, dengan banyaknya korban perhatian tertuju pada lalu lintas luar kota. Padahal,  di dalam kota  sangat banyak lokasi yang rawan kecelakaan lalu lintas. Hanya saja, karena dampaknya tidak parah sehingga tidak terlihat rambu lalu lintas rawan kecelakaan.

Ruas jalan di dalam kota yang rawan kecelakaan salah satunya di  persimpangan. Dalam berlalu lintas, persimpangan bagi pengemudi kendaaan bermotor merupakan daerah rawan kecelakaan. Dengan bertemunya kendaraan dari beberapa ruas jalan, berpotensi terlibat benturan. Termasuk dengan pengguna jalan lainnya yaitu penyeberang jalan. Atas dasar kondisi tersebut, di persimpangan diperlukan pengaturan arus lalu lintas. Selain masalah kelancaran dan ketertiban berlalu lintas, pertimbangan yang tidak kalah pentingnya yaitu untuk menghindari  terjadinya kecelakaan.

Dalam mengendalikan arus lalu lintas di persimpangan  umumnya dipasang lampu pengatur lalu lintas (traffic light). Akan tetapi, tidak hanya itu yang bisa dilakukan, melainkan juga ada alternatif lainnya  dengan pembuatan bundaran. Pengendalian lalu lintas menggunakan bundaran dapat dilakukan dengan  membelokkan kendaraan bermotor yang meluncur dari suatu lintasan yang lurus. Hal tersebut dilakukan dengan harapan dapat memperlambat kecepatan dari laju kendaraan.

Tidak hanya itu,  dengan menggunakan bundaran lalu lintas akan membatasi alih gerak (manuuver) kendaraan bermotor menjadi pergerakan berpencar, bergabung, dan bersilangan. Dengan demikian, kecepatan dari kendaraan-kendaraan yang melalui bundaran menjadi relatif rendah. Dengan pengaturan lalu lintas  di persimpangan dengan bundaran ini kecepatan kendaraan bermotor  akan lebih lambat. Namun, hal tersebut tidak akan menghambat laju kendaraan-kendaraan bermotor secara besar-besaran seperti yang terjadi ketika berhenti saat lampu pengatur lalu lintas ketika menyala merah. Akan tetapi, sekarang ini sangat jarang ditemukan pengendalian lalu lintas di persimpangan dengan bundaran. Pasalnya,  kepadatan arus lalu lintas di di kota-kota besar di Indonesia sudah cukup tinggi sehingga kecepatan kendaraan relatif rendah.

Dengan demikian, penggunaan bundaran tidak tepat lagi. Penggunaan bundaran akan sangat bermanfaat  pada ujung jalan yang kecepatan kendaraannya tinggi. Hanya perlu diperhatikan, pergerakan kendaraan bermotor di persimpangan yang penmgaturannya dengan bundaran, pengemudi tidak bisa seenaknya. Alasannya, setiap pergerakan kendaraan bermotor di jalan tidak lepas dari pengaturan  termasuk di bundaran. Menghadapi persimpangan yang terdapat bundaran, pngemudi kendaraan bermotor  harus memberikan hak utama kepada kendaraan lain yang telah berada di seputar bundaran. Sementara untuk arahnya sesuai arah putaran jarum jam ke arah yang dituju.

Bagi pengemudi kendaraan bermotor yang akan  belok kiri harus mendekat dalam lajur kiri dan tetap pada lajurnya. Penting  diingat, pengemudi harus mengisyaratkan belok ke kiri  saat berdekatan dengan bundaran. Sementara bila akan bergerak terus diusahakan mendekat pada lajur kiri atau kanan untuk jalan  dua lajur. Kecuali bila lajurnya tiga mendekatnya  dalam lajur sebelah kiri atau lajur tengah. Sementara bila pengemudi kendaraan bermotor dari bundaran bertujuan  ke kanan selalu mendekati dalam lajur kanan. Pengemudi harus memberi isyarat dan menempatkan kendaraannya dekat ke tengah bundaran hingga siap untuk meninggalkan bundaran. (Dudih Yudiswara – Wartawan Bidang Perhubungan)