Ekstra Hati-hati Masuki Perlintasan KA

Post :   |   13 Desember 2017   |   08:48 WIB   |   Dilihat 35 kali

DISHUB JABAR

Bagi pengemudi kendaraan bermotor selama beraktivitas di jalan yang kepadatannya sangat tinggi, dituntut tetap waspada. Dalam menempuh perjalanan, semua aturan menyangkut  pergerakan kendaraan bermotor harus dipatuhi.    

Dalam berlalu lintas sekarang ini pengemudi kendaraan bermotor tidak lagi mengenal daerah rawan kecelakaan. Dengan kondisi lalu lintas yang padat, musibah di jalan bisa terjadi di mana saja dan kapan saja, sehingga di semua ruas jalan setiap pengemudi dituntut kewaspadaannya.   

Hal ini berbeda ketika volume kendaraan bermotor tidak sepadat seperti sekarang ini. Pengemudi selama menyusuri jalan sering menemukan sejumlah lokasi terpasang rambu yang menyatakan rawan kecelakaan karena memang sebelumnya sering terjadi musibah yang menimpa pengguna jalan.

Akan tetapi, daerah rawan kecelakaan tersebut kemudian meluas seiring terus meningkatnya volume kendaraan bermotor, sehingga lebih besar kemungkinan pengguna jalan menjadi korban. Tidak hanya itu, dengan kemajuan teknologi otomotif, kemampuan kendaraan bermotor terutama dalam hal kecepatan cukup tinggi.

Sementara pelanggaran terhadap tata cara berlalu lintas dari pengemudi kendaraan bermotor tidak pernah lenyap dari pemandangan sehari-hari di jalan. Padahal, hal itu berpotensi musibah karena semua kecelakaan didahului dengan pelanggaran dari pengguna jalan.

Terlebih lagi dengan jalanan yang mulus, memungkinkan pengemudi memanfaatkan kemampuan kendaraan bermotor yaitu memacunya dengan kecepatan tinggi. Oleh karena itu, dari kecelakaan lalu lintas selama ini umumnya dalam keadaan kendaraan bermotor melaju dengan kencang.

Begitu juga halnya pengemudi kendaraan bermotor dalam menghadapi perlintasan sebidang antara rel kereta api (KA) dengan jalan raya. Setiap akan memasuki perlintasan KA, selalu tepasang rambu peringatan, tetapi kecelakaan di ruas jalan yang digunakan bersama oleh kendaraan bermnotor dan kendaraan baja tersebut selalu saja terjadi.

Padahal, bagi pengguna jalan raya, di lokasi pertemuan antara dua moda perhubungan darat itu, sangat rawan kecelakaan dengan risiko tidak ringan karena amcamannya nyawa melayang. Untuk itu, pelanggaran di wilayah perlintasan KA, seperti menyerobot pintu perlintasan harus dihindari.

Perjalanan KA ketika melintasi jalan raya mendapat perlindungan dengan memasang pintu perlintasan, tidak lain semata-mata untuk menghindari kecelakaan antara KA dengan pengguna jalan. Pasalnya, di wilayah perlintasan KA kemungkinan untuk jatuhnya korban jiwa akibat berbenturannya kendaraan bermotor dengan KA sangat besar, yang hampir dipastikan korbannya pengguna jalan raya.   

Memang, sekarang ini tidak semua perlintasan KA dilengkapi dengan palang pintu. Namun, dengan kondisi tersebut tidak berarti penngguna jalan raya dengan bebasnya melintasi rel KA. Malahan, untuk perlintasan seperti itu, kewaspadaan pengguna jalan raya harus lebih tinggi lagi.    

Dengan tingginya kerawanan di perlintasan KA, pemerintah melakukan pengaturan pergerakan kendaraan bermotor melalui dua peraturan. Yaitu undang-undang tentang lalu lintas dan angkutan jalan, dan undang-undang tentang perkeretaapian.

Seperti dalam hal menerobos pintu perlintasan, dari kedua undang-undang tersebut dinyatakan sebagai pelanggaran. Hal ini mengingat areal perlintasan merupakan  wilayah dua moda perhubungan darat yang karakternya jauh berbeda.   

Untuk KA mempunyai karakter perjalanannya  tidak bisa dihentikan secara  mendadak, sehingga pengoperasiannya dilindungi undang-undang. Pengguna jalan untuk  melintasi rel KA harus memberikan prioritas kepada perjalanan KA.

Untuk itu, sebelum melintasi rel KA, pengemudi kendaraan bermotor harus dapat memastikan dari arah kiri atau kanan dalam kondisi aman dari KA. Dengan demikian,  bila aturan dipatuhi kendaraan bermotor akan terhindar dari hantaman lokomotif. (Dudih Yudiswara - Wartawan Bidang Perhubungan)